Allah Memberi Sesuai Kebutuhan Kita, Bukan Keinginan #Bagian 1

by - August 06, 2021



Kali ini aku akan berbagi tulisan tentang hasil renungan yang aku ingin tulis, namun nyatanya Allah memberikannya secara bertahap dan berdasarkan kebutuhan kita. Kisah ini diawali dari keinginanku punya usaha saat kuliah tapi inginnya pas kelas 3 SMA wkwkkw. Aku itu terus berdoa buat memiliki usaha dengan target sekian nominalnya. Bukankah kalau meminta harus spesifik?


Aku ingat, awal aku jualan mandiri, nggak gabung sama tim, benar-benar individu yang berdiri sendiri. Bahkan sekarang aku pun bertanya kepada diri sendiriku, kok berani ya aku senekad dulu? wkwk


1. Memulai Usaha Makanan, Berujung Tidak Laku


Ceritanya waktu itu habis dapat ilmu digital marketing di Instagram. Kupikir aku sudah cukup ilmu guys dalam hal pemasarannya, rupanya aku salah, permainan baru dimulai wkwkw. Hal itu masih pemanasan dalam bisnis. Aku sudah menyiapkan produk, (ceritanya ini ready stock ya), lalu melakukan launching produk. Semua ilmu instagram marketing aku praktikkan, kecuali ads-karena aku belum berani ngiklan. Takut rugi wkwk padahal mah aku udah rugi. 


Seluruh orang yang aku kenali kukabarkan kalau “Ini lho he aku jualan” wkwkwk. Menurut live ig seorang pebisnis, memulai bisnis itu dengan menawarkannya pada kerabat terdekat. Membangun trust terlebih dahulu untuk membuat testimoni nantinya. 


Meskipun aku sudah mempraktikkannya, beberapa teman dekatku membelinya, tapi aku rasanya masih kurang dan merasa gagal. Ekspektasiku bakal laku keras wkwkwk, tapi kok cuma temenku satu daerah membelinya. Aku juga menerapkan teknik closing ke teman-teman SMA-ku, tapi kebanyakan di-read saja. Cuma dua orang menanggapi pesanku wkwkwk. 


Langsung pas momen itu kayak aku baper, sedih, dan bingung. Kok nggak jalan nih ilmunya. Beda pas aku jualan bareng temen, kerja jadi sales. Tiap penawaranku langsung goal gitu wkwk. Kemudian aku analisa, apa yang terjadi, mengapa demikian bisa terjadi. Hasil analisisku adalah pertama, aku dulu jadi sales menjual produk kebutuhan dan menawarkannya ke target pasar yang tepat. Sedangkan produk camilanku ini bukan kebutuhan pokok, lagian siapa yang bisa memetakan target pasar spesifik orang yang suka ngemil wkwk. Kedua, aku menyadari ya inilah mentalku dilatih haha. Ketiga, aku menyadari bahwa aku kurang sekali ilmu dan keterampilannya. Keempat, usaha ini nggak masuk buat diriku wkwk, belum nemu polanya. Ya bisnis itu punya pola masing-masing yang sulit dijelaskan bagiku. Akhirnya, aku menutup kasus ini dengan menjalin silaturahim dengan teman lamaku yang jago marketing. Siapa tahu dia bisa membantuku wkwkwk.


Perjalanan usahaku kembali dimulai dengan belajar - praktik - belajar - praktik dan seterusnya. Selama proses tersebut, Allah memberikanku sesuai kebutuhanku. Mungkin bisnis individuku tersebut tidak berhasil, belum laku banyak, karena bisa jadi kalau Allah langsung memberiku pelanggan mak bruk bruk, aku belum siap memenuhi permintaan pasar, ilmu masih amat seupil, jadinya malah bikin masalah nantinya, dan aku jadi belajar proses itu penting.


2. Strategi Serangan Udara


Setelah bertemu temanku, melakukan pendekatan, dan akhirnya ia mau membantuku. Tujuan utamaku waktu itu mewujudkan keinginan ayahku untuk membuka usaha di Malang. Jadi target pasarnya adalah orang Malang. Waktu itu agak aneh sih dan kurang yakin dengan strategi dari temanku itu. Aku pikir, aku harus ke Malang untuk menjalankan bisnis ini. Justru ternyata tidak. Aku mengendalikan aktivitas bisnisnya dari kampung halamanku. Hah memangnya bisa? Dia menyebutnya, “Strategi Serangan Udara”-kalau aku tidak salah mengingatnya.


Jadi aku mencari supplier di Malang yang bersedia untuk memproduksi, mengantar, dan menggunakan nama brand-ku saat ada pembeli dari hasil marketingku. Entahlah aku waktu itu agak tidak yakin hehe. Tapi aku melakukan dan mencoba saja. Saat mencari supplier itu, wuih pagi sampai malam. Aku baru tiba di tempatku pukul 20.30 WIB, bahkan orang tuaku sudah tertidur (Ya waktu itu orang tuaku pengen ikut hehe alias kintilan padahal aku sedang tidak berlibur). Berkat misi mencari supplier ini, aku menjadi berani menghubungi dan bertemu banyak orang tak kukenal. Ya karena terpaksa dan terdesak sebab aku tidak lama di Malang. Terlebih saat itu sudah masa pandemi uwau.


Bukan sampai situ saja, aku sampai harus ke Gunung Kawi untuk menemui seorang supplier wkwkwk. Waktu itu aku takut, khawatir kok rumahnya di pucuk kaki Gunung Kawi sih. Apalagi daerah itu kan terkenal…. hehe. Awalnya aku akan sendirian menuju kesana. Tapi rupanya ibuku mau menemaniku. Oh bersyukurnya punya support system dalam misi menghasilkan cuan hahaha. 


Ternyata aku salah besar gengs! Bapak supplier memilih tinggal di kaki Gunung Kawi karena ada misi spiritual yakni berdakwah-salah satunya. Alhamdulilah bersyukur aku bertemu seorang yang berlatar belakang agamis, setidaknya aku bisa mempercayakan brand-ku hehe. 


Karena hal ini, aku belajar bagaimana mencari supplier ya. Kalau mengingat teori bisnis model kanvas ada yang namanya, “key partners”. Oh jadi begini ya rasanya mencari partner. Aku juga merasakan bahwa saat kita berbisnis, kita ini sedang bekerja sama dan saling membantu lho. Ketika aku bekerja sama dengan supplier, mereka terbantu untuk kemajuan usahanya, mereka bisa menghidupi kebutuhan hidupnya. Wah aku baru menyadarinya. Kebaikan saling terhubung rasanya. 


Meskipun usahaku ini tidak lanjut, walau banyak banget yang menghubungi sebab marketingnya bisa dibilang berhasil. Sayangnya, produk dan kesiapan supplier masih kurang. Berkali-kali menolak pesanan pembeli, karena supplier kami tidak siap.


Namun, aku belajar. Lagi-lagi Allah memberikan sesuai kebutuhan. Di sini marketing sudah lancar-meskipun yang mengoperasikan bukan aku. Tapi aku belajar banyak hal. Di sini aku belum siap produk. Namun aku memperoleh ilmu yang bermanfaat bagiku untuk ke depannya.


Bersambung.....


Masih ada 3 bagian lainnya, stay tune hehe


Baca juga : Rugi = Biaya Sekolah


You May Also Like

0 komentar