Tentang ‘tempat keberpihakkanku’

by - December 08, 2018



Bagiku ‘tempat keberpihakkanku’ selalu ada yang menarik. Mungkin bukan aku saja, beberapa orang yang belum (berani) memutuskan keberpihakannya, salah beberapa orang dari mereka bercerita kepadaku, mereka secara tidak langsung berpihak dan mau membantu (dalam menghadapi bulan suci) karena ‘tempat keberpihakkanku’ selalu punya cara yang unik di setiap langkah perjuangan.

[Peringatan: Tulisan ini mungkin sedikit fanatik eh atau banyak. Yaudahlah. Terserah yang punya blog]

Karena strateginya unik dalam kampanye,” katanya.

Namun sayang juga, beberapa atau tidak sedikit pula orang-orang yang (sempat berani) menyatakan keberpihakannya di ‘tempat keberpihakkanku’ mengundurkan diri. Semoga suatu saat Allah menggerakkan hatinya untuk kembali berjuang bersama teman-teman (di ‘tempat keberpihakkanku’) yang selalu siap untuk menyambut mereka.
  
Ah masa. Nggak juga. Unik bagaimana? Semuanya tuh sama aja. Gila kekuasaan. Pengen kekuasaan. Pencitraan tok!

Mungkin sekilas begitu pandangan orang awam. Tapi bagiku, orang-orang di ‘tempat keberpihakkanku’ mereka nggak setengah-setengah dalam berjuang. Segala ikhtiar kebaikan dilakukan. Memaksimalkan kampanye darat dan kampanye udara.


Inilah sebenarnya yang membuatku menarik dan percaya bahwa ini ‘tempat keberpihakkanku’ terbaikku. Selalu melibatkan Allah di setiap kondisi apapun. Sukak deh.



Yang paling menyentuh adalah, tentang mendoakan saudara, bahkan sebut nama satu-satu dalam doa (kalau bisa).

Saat aku ikut Dauroh Quran, first time for me, yang mengharuskan untuk mabit. Mbak Zahra-wapres EM saat itu yang ikut juga, dia menyimpulkan hikmah dari kisah yang aku ceritakan pada mereka (yang mana aku belum menyimpulkan hikmah sampai pada titik simpulan yang berkesan itu, menurutku). Bahwa mungkin saja, maba cupu nan polos sampai berani menyatakan keberpihakkannya pada ‘tempat keberpihakkanku’ ini karena doa-doa dari orang-orang yang ada di ‘tempat keberpihakkanku’ yang sering menembus langit.

Mungkin saja, orang-orang yang belum merasakan ini sebagai tempatnya, itu sebab doa-doa kita kurang kenceng buat nembus langit, makanya belum bisa sampai ke hati mereka. Oleh sebabnya, di ‘tempat keberpihakkanku’ kami selalu ditekankan untuk terus berusaha istiqomah dan meningkatkan amal yaumi. Bahkan sebelum ketemu, sebelum syuro’, tiket masuk untuk bergabung dan hadir adalah tagetan amal yaumi. Inilah yang membuatku tak luput dari kata Masya Allah.

Hal ini menjadi pelajaranku dan evaluasi mengapa dulu banyak teman-temanku yang perlahan pasif liqo, pasif dakwah. Sedih kan aku. Karena apa? Karena aku lupa sebut mereka dalam doaku, karena amal yaumiku sangat jauh dari kata istiqomah, karena aku kurang kenceng doanya sehingga nggak sampai ke hati teman-teman. Inilah yang paling menarik dan berkesan sampai sekarang menurutku.   

Selalu melibatkan Allah di setiap kondisi apapun. Tentang ini lagi. Saat awal pengumuman calon dari ‘tempat keberpihakkanku’, aku terkejut dan bergumam sendiri. Kok ini? Kenapa? Maaf ya tsiqoh-ku masih kurang banget, jadinya gini banget, padahal kan nggak boleh hehe.

Usut punya usut, setelah aku telusuri. Amanah bukan hanya tentang seorang pemimpin yang berkompeten, bukan hanya tentang self branding yang bagus, bukan hanya pemimpin yang dikagumi banyak orang, bukan cuma yang akhlak atau sikapnya baik, hubungan dengan rakyat baik, jaringan pertemanan luas, bukan cuma perihal itu gais. Tapi hubungan sang pengemban amanah dengan Sang Pemberi Amanah tersebut. Sudah seberapa dekat? Bagaimana kabar imannya? Bagaimana amal yauminya? Seberapa istiqomahnya?

Karena aku yakin, bukan dakwah yang mengatur diri kita, bukan waktu yang mengatur diri kita, tapi amal yaumi yang mengatur diri kita dengan sendirinya, yang kemudian mengatur dakwah kita, baru mengatur waktu kita dengan sendirinya, tanpa kita harus pusing untuk mengatur segalanya.

Pokoknya aku bersyukur di ‘tempat keberpihakkanku’. Doakan istiqomah ya, dan semoga niatnya selalu diluruskan. Aamiin.

You May Also Like

0 komentar